Categories
Berita

Merayakan Jazz Hingga Lereng Gunung Bag12

Saat pertama kali UVJF digelar pada 2013, 90 persen pergelaran ini merupakan hasil kerja gotongroyong, dari musikus lokal, nasional, dan luar negeri hingga alat dan sound system. Konsep ini masih terus dipertahankan dengan melibatkan komunitas yang lebih luas, seperti dari kalangan fotografer dan komunitas peduli lingkungan. Keberanian itu bukan tanpa risiko.

Yang pasti, secara fnansial UVJF belum bisa dibilang menangguk untung. Dengan pengunjung sekitar 3.000 orang setiap kali digelar, penjualan tiket, sponsor, dan sewa stan belum bisa menutupi biaya produksi, yang tahun ini mencapai sekitar Rp 800 juta. Tahun lalu mereka malah menanggung kerugian hingga Rp 170 juta karena sejumlah musikus batal hadir karena pesawatnya terhalang oleh letusan Gunung Raung, Jawa Timur.

Categories
Parenting

“Aku Mau Di Sekolah Ajah!” Bag2

Interaksi anak dan guru cukup intens karena bertemu setiap hari, meski hanya beberapa jam. Guru juga membantu anak dalam belajar banyak hal, serta memberi anak ke sempatan bereksplorasi di lingkungan sekitar. Guru, khususnya wali kelas anak, biasanya juga telaten dan sabar menghadapi anak, sehingga anak merasa dekat dengannya.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Ketiga, perbedaan signifi kan antara pola asuh yang diterapkan orangtua di rumah dan bagaimana guru memperlakukan anak di sekolah. Mama Papa yang cenderung overprotective kadang banyak melarang ini itu pada setiap tindakan anak. Misal, di rumah anak dilarang memegang gunting, karena dianggap berbahaya, sementara di sekolah anak diajarkan tak hanya memegang gunting, namun juga bagaimana cara menggunting dengan benar dan aman. Selain itu, karena kesibukan harian (baik bekerja maupun pekerjaan rumah tangga), kadang kita jarang mendampingi anak bermain di rumah.

Sebaliknya, di sekolah guru siap mendampingi anak dan membimbing anak kapan saja. BAGAIMANA MEMBUJUKNYA? Susah-susah gampang memang membujuk anak yang betah di sekolah hingga jam pulang. Padahal, saat waktu sekolah usai, guru biasanya punya pekerjaan lain yang harus di selesaikan. Kalaupun anak terpaksa bermain lebih lama di sekolah karena belum dijemput, jelaskan pula hal ini tidak akanterjadi setiap hari. Oleh karena itu, usahakan untuk selalu menjemput tepat waktu. Karenanya, tegaskan pada anak, setelah jam sekolah usai, ia harus pulang. Itu peraturannya. Di luar itu, minta guru mengondisikan anak saat tiba waktunya pulang.

Misal, dengan mendendangkan lagu tentang pulang sekolah, “…esok kami ‘kan tidak sekolah, belajar bersama-sama di rumah.” Bisa juga dengan menyampaikan pesan tentang hal yang perlu dilakukan di rumah, contoh meminta anak bercerita tentang kegiatan di sekolah hari ini atau membantu pekerjaan di rumah. Jika anak masih ingin bermain di sekolah, temani anak bermain sejenak. Katakan pula kapan waktunya anak harus selesai bermain dan pulang. “Sampai jarum pendek di angka 11, kita pulang ya,” sambil menunjuk jam dinding di sekolah. Mama harus tetap konsisten saat waktunya habis, jangan memperpanjang lagi waktu bermainnya di sekolah. Segeralah beranjak keluar sekolah sesuai waktu yang disepakati.

Sumber : https://ausbildung.co.id/