Categories
Uncategorized

Komunisme

SEJAK remaja ia memang sudah seorang aktivis Bolsyewik, organisasi komunis yang diharamkan itu. Suatu ketika ia membantu para perempuan tahanan politik melarikan diri. Ia tertangkap dan dihukum 11 bulan penjara pemerintahan Tsar. Tapi dari sini lahir Mayakovski sang Penyair. Dalam sel, ia menulis sajak—dan sejak itu tak berhenti.

Kian lama karyanya, juga seni grafis, teater, dan film, kian menunjukkan sesuatu yang mempesona dan cemerlang. Setelah sang penyair mati, Partai Komunis yang menang mendirikan patungnya, setinggi enam meter, di Lapangan Triumphalnaya, Moskow. ”Mengabaikan kenangan tentang dia dan karyanya,” kata Stalin tentang Mayakovski, ”akan dianggap sebagai tindak kejahatan.” Jika pujian itu terdengar seperti ancaman, itu indikasi yang menyedihkan.

Sejarah puisi Mayakovski bisa menandai perbedaan vibrasi gerakan komunis dalam era yang berbeda: bermula dari perlawanan yang tanpa pamrih terhadap kekuasaan, berakhir dengan monumen yang mandek dan pemujaan yang wajib. Berawal dari gairah puitik yang dramatik, eksplosif, tak gentar menampilkan ”aku” yang menentang kompromi di sekitar (puisi Mayakovski yang ditulis pada 1913: ”Menampar Wajah Selera Publik”), berakhir dengan kepatuhan kepada petunjuk resmi.

Sebenarnya, sebuah tragedi. Pada 14 April 1930, Mayakovski menembak dirinya sendiri. Umurnya masih 36 tahun. Catatan yang ditinggalkannya: ”Jangan salahkan siapa pun atas kematianku dan tolong, jangan bergosip.” Ada yang mengatakan, ia bunuh diri karena cinta yang tak pasti. Ada yang menduga, kekuasaan Partai mulai mengasingkannya; hubungan ”cinta” dalam sajaknya dengan Komunisme sudah berubah. Ada yang melihat, bunuh diri itu bagian dari narsisme Mayakovski yang selamanya siap memamerkan diri.

Pesolek ini memang aktor panggung dan pembaca puisi yang bisa memikat. Temannya, Boris Pasternak, yang kemudian dikenal sebagai penulis novel Doctor Zhivago, menggambarkan Mayakovski sebagai penyair dengan ”suara seperti penyanyi mazmur dan tinju seperti pegulat”. Ia sebuah atraksi. Bunuh diri—seperti dalam kasus Mishima, seorang narsis lain—juga sebuah atraksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *