Categories
Berita

Peluang Rumah Vaksin – Membidik Keluarga Menengah Part 3

Peluang Rumah Vaksin – Membidik Keluarga Menengah Part 3

Untuk diketahui, setiap cabang hanya dikelola seorang staf administrasi dan seorang dokter. Mirip dengan praktik dokter pribadi. Dalam layanan kesehatan masyarakat, Rumah Vaksinasi memang setingkat dengan praktik pribadi, bukan klinik. Izinnya pun untuk praktik pribadi. Pada dasarnya, seorang dokter memang mempunyai kompetensi untuk melakukan vaksinasi. Fasilitas di Rumah Vaksinasi mengikuti standar layanan kesehatan. Selain ruang pemeriksaan atau praktik, Rumah Vaksinasi juga dilengkapi dengan fasilitas gawat darurat.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Tak ketinggalan fasilitas penyimpanan vaksin berupa lemari pendingin yang temperaturnya dijaga pada kisaran 2 – 8 ºC. Vaksin yang digunakan merupakan produksi berbagai perusahaan farmasi, dalam negeri maupun luar negeri yang telah memiliki cabang di Indonesia. Hemat Biaya Kesehatan Meski kemudian tumbuh cepat tak ubahnya sebuah usaha yang menguntungkan, Rumah Vaksinasi sejatinya didirikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan vaksinasi yang murah. Ceritanya diawali aktivitas Dr. Piprim di social media, Twitter. Menurut Dr. Ahmad, melalui Twitter Dr. Piprim sering mendapatkan pertanyaan dari masyarakat tentang imunisasi. Atas pertanyaan itu, Dr. Piprim memberikan jawaban yang objektif sehingga para follower-nya mendapatkan pengetahuan yang baik tentang imunisasi dan vaksinasi.

Asal tahu saja, dunia internasional telah mengakui bahwa imunisasi bermanfaat sangat besar bagi kesehatan masyarakat. Di Belanda misalnya, orang tua yang tidak membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi akan diingatkan oleh pemerintah. Begitu juga dengan di Jepang. Imunisasi bisa sangat menghemat biaya kesehatan. Contohnya, bila tidak melakukan vaksinasi hepatitis B seseorang bisa berisiko terkena hepatitis B. Bila hal itu terjadi, penyembuhannya bisa sampai cangkok hati yang sudah tentu berbiaya sangat mahal. Padahal, dengan vaksinasi dengan biaya di bawah Rp1 juta, penyakit tersebut bisa dicegah. “Namun, ada sebagian masyarakat Indonesia yang masih ragu (tentang manfaat imunisasi). Nah, melalui social media itu Dr. Piprim mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya imunisasi,” ungkap Dr. Ahmad.

Ketika masyarakat yang ia edukasi sadar akan pentingnya imunisasi, mereka bertanya tempat imunisasi yang murah. Kalau melakukan imunisasi lengkap di rumah sakit, biayanya mahal. Sementara, pemerintah tidak menanggung semua biaya imunisasi itu. Atas dasar itu, Dr. Piprim berpikiran untuk membuka layanan sendiri di rumah. Dengan begitu, cost-nya bisa ditekan, karena tidak perlu biaya membangun rumah sakit. Begitu pula untuk biaya karyawan dan promosi. Maka, pada akhir Maret 2012 Dr. Piprim mendirikan Rumah Vaksinasi pertama. “Ternyata responsnya bagus. Orangorang yang menjadi follower Dr. Piprim berdatangan ke sini.” Menurut Dr. Ahmad, modal untuk membuka Rumah Vaksinasi nyaris tidak ada. Untuk tempat, pakai rumah sendiri sehingga tidak ada biaya sewa gedung. Stok obatnya juga diambil dari distributor dengan sistem pembayaran tempo. Jadi, otomatis hampir tanpa modal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *