Categories
Uncategorized

Revolusioner

Itu juga ambiguitas Mayakovski. Itu juga ketegangan dalam sajak-sajaknya yang ingin menegaskan ”aku” yang liris bersamaan dengan kesadaran revolusioner yang lurus. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama Uni Soviet, Lunacharski, melihat ada dua wajah penyair ini. Yang pertama: wajah seseorang yang hatinya berdegup bagaikan palu yang dipukulkan (”Mayakovski metal”). Yang kedua: seseorang yang rapuh, sensitif, seakan-akan dalam dirinya ada ”tukak lambung yang berdarah”.

Kata Lunacharski, sang penyair bunuh diri karena sosok ”tukak lambung” itu yang mengambil alih. Justru ketika Komunisme memasuki ”abad besi”. Tapi di situ juga tampak dilema cita-cita yang dirumuskan Marx dan dilaksanakan Lenin—kontradiksi yang harus dialami Mayakovski. Cita-cita Komunisme berangkat dari semangat pembebasan ”kaum yang terhina dan lapar” yang sakitnya terasa bak ”tukak lambung yang berdarah”. Tapi pada akhirnya ia harus melalui ”abad besi”, ketika mesin dan martil dipukulkan untuk meratakan jalan, merampat permukaan atau menghabisi lawan.

Gerakan Komunis lahir untuk membentuk masyarakat yang ”sama rata sama rasa”. Tapi di tengah jalan, agar efektif, ia harus membentuk Partai yang hierarkis dan keras—dan pada gilirannya, represif. Di bawah Stalin, Partai Komunis makin keras, kukuh, dan pembangunan berjalan, dan perang melawan Nazi dimenangi. Tapi juga pada pertengahan 1930-an itu, represi adalah teror. Ribuan orang ditangkap, dibuang, atau ditembak mati—di antaranya kawan-kawan seperjuangan Lenin di masa awal Revolusi. Pada 1956, Khrushchev, yang waktu itu memimpin Partai Komunis, membongkar kekejaman Stalin dalam sebuah pidato rahasia.

Teksnya baru disiarkan resmi 32 tahun kemudian…. Tertutup dan tanpa kebebasan yang luas untuk menelaah persoalan, cara pidato itu disembunyikan (sebuah otokritik besar yang oleh PKI, di Indonesia, tak pernah disebut) menunjukkan apa yang akhirnya membuat gerakan komunis gagal: ketakmampuannya dengan segera memperbaiki cacatnya sendiri. Ia pun ditinggalkan sejarah dan jadi kenangan, dipuja atau dibenci. Mayakovski pernah punya idaman: pena akan setara dengan bayonet, Stalin akan lapor ke Politbiro ia sedang menggubah sajak. Itu cita-cita yang indah, seperti Komunisme. Tapi itu tak pernah terjadi.

Website : kota-bunga.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *